Jumat, 30 Desember 2011
"Maaf.. Aku Tidak Sengaja"
Aku tidak sengaja jatuh cinta. Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang ketika aku bersama kamu. Dan ketika kamu melihat ke arahku, aku tidak sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor lempar lembing yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga kamu tidak tahu aku sedang memandangmu.
Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu. Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama. Celingukanku membuktikannya.
Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus. Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya. Semuanya tidak sengaja beralasan agar kita tetap bertemu.
Aku tidak sengaja mengaktifkan phenylethylamine dari sistem limbik otakku saat dekat kamu. Dan itu memicu euphoria. Aku tidak sengaja sangat suka suara tawamu terhadap leluconku. Ketika kamu aku goda, aku tidak sengaja nyaman menerima cubitan manja kamu yang mendarat di perutku. Aku tidak sengaja panik jika kehabisan bahasan obrolan ketika aku berbincang dengan kamu. Rasanya dimensi waktu lari terbirit-birit jika aku sedang bersama kamu, seolah kebersamaan aku dan kamu begitu menakutkan bagi waktu.
Aku tidak sengaja menawarkan baju hangatku ketika kamu kedinginan. Ah, aku tidak sengaja terus membayangkan wangi parfummu yang tertinggal di baju hangatku. Terus menerus, hingga pagi menjelang, handphone-ku adalah yang pertama ku-check. Aku tidak sengaja kecewa jika ada SMS namun bukan kamu pengirimnya. Aku tidak sengaja khawatir jika tidak tahu kabarmu.
Demi Tuhan, aku tidak sengaja uring-uringan ketika kamu tidak ada di tempat biasanya ketika aku cari. Aku tidak sengaja mencari tahu banyak hal tentangmu.
Aku tidak sengaja jatuh cinta kepadamu. Aku tidak sengaja benci membayangkan ini semua hanya pesan yang gagal aku decode dengan baik. Pesan yang kamu kirimkan begitu rumit, atau alat pen-decode-ku yang kalut tertutupi canggung, takut, rindu, cemas, harap, dan kawan-kawannya?
Aku tidak sengaja menjadikanmu “karena” dalam setiap “mengapa” yang bermuara di benakku.
Maaf, aku tidak sengaja…
-Dara Prayoga-
Pagi adalah Kamu ☺
Pagi adalah di saat mimpi atau kenyataan tak lagi penting, yang penting ada kamu.
Pagi adalah ketika aku berpikir bahkan mimpi paling indah pun tak ada apa-apanya jika aku melihat kamu tersenyum hari ini.
Pagi adalah ketika aku memulai berdoa lagi melihat kamu tersenyum hari ini.
Pagi adalah ketika aku menebak-nebak baju apa yang akan aku pakai agar nanti bisa terlihat serasi denganmu.
Pagi adalah menebak-nebak untuk berangkat jam berapa yang sesuai agar aku dan kamu berpapasan di jalan.
Pagi adalah semangat baru, membayangkan akan bertemu kamu yang tersenyum, meskipun bukan padaku.
Pagi adalah mencari-cari. Mencari kabar terbaru tentangmu.
Pagi adalah ketika matahari tersipu malu melihat kamu tersenyum. Dia menganggap dirinya jantan, dan kamu matahari betina.
Pagi adalah mengkhayal kamu adalah sisipan alunan dalam senandung harva malaikat pagi.
Pagi adalah mengkhayal lagi, mengkhayal kamu adalah malaikat pagi itu sendiri.
Pagi adalah ketika aku mengabaikan pesan dokter. Katanya, sarapan itu sehat, aku malah sarapan memikirikan kamu.
Pagi adalah ketika logikaku berkata "Kamu cuma kegeeran." dipatahkan oleh perasaan yang berkata "Bukan, kamu jatuh cinta."
Pagi adalah deg-degan membuka SMS di handphone, berharap itu dari kamu. Dan kecewa ketika tahu itu cuma promosi dari provider seluler.
Pagi adalah… Saat aku rindu kamu...
-Dara Prayoga-
Surat Rindu
Surat Rindu Yang Tak Perlu Dibalas...
Bagaimana mungkin pria dan wanita, dua makhluk yang saling bingung karena sifat lawan jenis masing-masing, bisa jatuh cinta?
Bagaimana mungkin pria dan wanita, yang konon berasal dari planet yang berjauhan, yaitu dari Mars dan Venus, bisa saling merindukan padahal sama-sama sedang berada di bumi?
Ah, pertanyaan klise itu memuakkan, memekakkan telinga. Namun apa yang lebih lumrah dari kalimat “aku rindu kamu”? Rindu yang tak berbalas. Setidaknya begitu bagiku.
Semua hal memang tak harus tersurat, tapi tak semua manusia memiliki kepekaan tinggi terhadap yang tersirat. Mulut-mulut itu berucap, “Tenang saja, dia juga pasti merindukanmu.”
Mungkin. Mungkin. Mungkin.
Cuma kata itu yang terus-terusan dimentahkan pikiran melalui mulutku.
Berpikir positif. Ah, sudah. Sejak awal hingga kini aku berpikir positif. Aku menanamkan kalimat “kamu juga rindu aku” dalam benak. Namun benakku tidak cukup bodoh untuk tidak meminta bukti. Kepada semesta, aku meminta bukti sebagai alasan aku bisa tetap terus rela benih kalimat positif tersebut tertanam dalam benak.
Entah aku yang kurang peka membaca sinyal rindu yang kamu beri, atau memang kamu yang belum mengirimnya sama sekali.
Rindu yang tak berbalas membuatku terlihat gila, atau aku memang benar-benar sudah gila. Bahkan ketika seseorang yang memang dikenal lucu melucu di depan banyak orang, membuat orang-orang terbahak-bahak, tetapi tetap saja wajah dan tatapanku seperti hasil persilangan antara layar televisi, kulkas, dan dompetku. Datar, dingin, dan kosong.
Rindu yang tak berbalas itu seperti lubang hitam. Menyedot habis semua senyum, tawa, dan canda yang aku punya.
Kita duduk berdekatan, tapi kita sendiri-sendiri.
Sayang, surat ini tak perlu dibalas. Tetapi balaslah rinduku, maka aku akan tetap waras...
-Dara Prayoga-
Minggu, 25 Desember 2011
korban buffering :O
I HATE SLOW !
gue tuh kaya lagi keabisan quota terus download sesuatu -.-
lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!
please gue jadi kesel sendiri nih begini nih..
rasanya pengen makan nasi pake sayur asem pake tempe pake ikan asin pake sambel :9 nyamnyamnyam enak! kenyang!
kenapa sih lama banget. apa susahnya ngomong sms telfon (aku ga punya pulsaaaaaaaaa) *jleb* korban iklan! pfft!
cape dideketin mulu mamaaaaa T.T
dijedornya kapan *ehh hahahaha mati gue!
saya berharap looh sumpah berharap -__-
menunggu yang ga jelas bener-bener bikin lo ga jelas guys sumpah ga boong zZzZz...
"waktu tak akan pernah mau menunggu ragu"
-sekian-
Senin, 19 Desember 2011
peran "penengah" it's so damn!!!
entah yah apa yang salah dalam diri gue. yang jelas gue sering banget dapet peran "penengah" kaya gini...
oh mai gaaaaaaaawwwdd!!!
sumpah demi apapun gue benci peran ini.
gue benci sesuatu yang berhubungan dengan kata 'rahasia'
gue benci sesuatu dimana gue harus berpura-pura oneng (padahal emang) dan berpura-pura ga tau apa-apa untuk melindungi rahasia-rahasia itu! herrr :@
dan gue benci sama orang yang ga pernah intropeksi dirinya sendiri
...
Langganan:
Komentar (Atom)