Hallo. Seperti judulnya, aku akan menceritakan semua tentang purnama.
Eh ga deh, tapi secara singkat aja ya, karena pekerjaanku masih banyak.
Belum lagi harus membantu bunda, biar masuk sorga. Hehehe
Sebenarnya, Aku sih tidak mau mengkisahkannya seperti cerita Rangga dan Cinta, Nathan dan Salma, Dilan dan Milea, Dito dan Ayu, atau apapunlah yang sudah kalian kenal dan hafal kisahnya. Walaupun mungkin kisahnya kurang lebih sama.
Tapi ini kisahku. Kisah ku dengan purnama.
Banyak dari mereka yang sering sekali mengatakan hal-hal yang tidak aku suka untuk di dengar bahkan beberapa diantaranya pun ada yang melarang kedekatanku dengan purnama. Memang sih apa yang dikatakan mereka tentang purnama sering sekali benar. Aku mengakui hal itu.
Lantas apa mereka berhak untuk merasa jadi yang paling benar?
Barangkali kisah ku memang tidak sesempurna kisah yang sudah dialami oleh kebanyakan orang. Rumit. Bahkan lebih rumit dari perkiraan ku sendiri.
Haha sudahlah tidak baik ya sepertinya jika awal mula kisah, aku sudah menceritakan soal rumit. Karena aku sendiri pun tidak tau letak kerumitannya.
Aku hanya perlu purnama, untuk meluruskan semua yang rumit.
Dan hanya dia yang bisa.
Kalian harus tau, betapa beruntungnya aku memiliki purnama ku sendiri.
Satu-satunya orang yang selalu bisa bikin aku ketawa dalam kondisi hal apapun.
Dan tidak ada satu alasan aku tidak bahagia bersama purnama.
Kamu percaya, pertemuan pertama adalah hal yang paling penting untuk kita saling terhubung? Aku percaya.
Pertemuan ku dengan purnama mungkin terbilang seperti cuplikan film anak sekolah.
Kelas 3 SMP, ya masih dalam fase menuju remaja. Jujur aku ini pendiam.
Dan susah sekali memulai pertemanan. Buktinya masuk kelas 3 SMP aku tidak kenal satu pun teman di kelas ku sendiri. Sempat gelisah sedikit, tapi ah aku tidak peduli.
Aku pikir yang paling penting saat itu, aku dapat kursi untuk duduk dan meja untuk aku menulis juga mengikuti pelajaran. Urusan teman bisa berkenalanlah nanti.
Ada kursi kosong paling belakang dan disamping anak laki-laki yang sedikit terlihat gemulai padahal kalau tidak salah yang ku dengar laki-laki itu anak basket, yang seharusnya terlihat keren. Ya sudahlah tidak apa-apa yang penting aku duduk. Walaupun kursinya goyang-goyang dan mungkin jika ada kaki jail yang menyenggolnya, aku terjatuh.
Kalian tau, kelas ku adalah campuran dari anak-anak yang berenergi super. Semua hobi ngomong dan ketawa. Berisik. Bukan karena aku tidak suka, tapi karena aku belum kenalan aja satu persatu. Ditambah kursi ku yang goyang-goyang bikin malas bergerak dan berkenalan sama temen-temen.
Diantara banyaknya orang di kelas itu, purnama lah yang pertama kali menyapa sekaligus memberikan kursinya untukku. Terlihat cuek tapi sangat peduli. Bahkan sampai detik ini aku mengenalnya, sifat itu tidak pernah berubah. Cueknya memang agak mengganggu tapi rasa pedulinya bikin aku bangga punya kamu, purnama.
Percaya deh, kalo dia baca pasti langsung bilang "apaansih han, lebayy". Hahaha!
Berawal dari kursi sekolah itulah aku dan purnama terhubung. Berteman. Bersahabat. Entahlah apa sebutannya, yang jelas selalu ada purnama di hidupku. Begitu pun aku, selalu bersamanya walau kita berjarak namun kita saling butuh.
Barangkali purnama ku tidak sama sepertimu, purnama ku hobinya menghilang.
Selalu membuat cemas yang menggemaskan. Menyebalkan sekali.
Kalau ada orang yang bilang "komunikasi itu penting", kayanya tidak bagi purnama. Cuek ya purnama ku. Pokonya jangan tanya aku deh gimana rasanya. Kalian juga pasti tau persis ko rasanya. Untung aku sayang. Dan sepertinya, tuhanku memang sengaja menciptakan purnama lalu dikirim ke bumi dan bertemu denganku itu supaya aku bisa sayang. Atau jangan jangan dia alien yang menyamar jadi manusia untuk menculikku lalu dibawa ke planet lain di luar bumi hehe kejauhan ya.
Selain hobinya menghilang, purnama ku itu unik.
Eh tunggu, unik dan kacau.
Gimana ga kacau coba, pernah pada malam hari aku dan dia kelaparan.
Dan satu-satunya makanan hanya ada pop mie tanpa ada air panas.
Lalu dia menyuruhku untuk seduh pop mie menggunakan air shower panas, ya yang sebelumnya dia sangat meyakinkan aku kalau air shower panas itu air matang.
Aku percaya gitu?
Ya enggaklah, tapi, tetap aku seduh sih pakai air shower panas itu.
Aku lapar gimana dong. Kacau ya. Tapi enak juga lho pop mienya.
Kalian harus coba seduh pakai air shower panas. Matang ko, kata purnama.
Aneh sih kenapa aku bisa sedekat ini ya dengan purnama.
Padahal sejak SMP, aku tidak pernah terpikir akan sejauh ini kedekatannya.
Bahkan untuk tau semua kisah atau perjalanan hidupnya, termasuk percintaannya.
Walau kadang, aku juga yang ikut menjodoh-jodohkannya. Hihi
Skenario dari tuhan memang ajaib.
Aku beruntung diciptakan berbarengan dengan purnama di satu frekuensi.
Karena kalau tidak, aku tidak akan merasakan pop mie senikmat itu.
Dan mendapatkan kursi sekolah terbaik di kelas 3 SMP.
Sudah dulu ya cerita singkat hari ini akan aku lanjut besok, sekarang aku mau tidur karena lupa belum sempat tidur.