Di mana lagi aku temui perempuan
semacammu? Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar
kepadaku.
Tapi, di mana lagi aku temui
perempuan seikhlasmu? Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat
selalu.
Tapi, katakan kepadaku, di mana
lagi aku jumpai perempuan seperkasamu? Kau bahkan tidak biasa berbicara
mewakili dirimu sendiri, dan acapkali menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang
tak berkata-kata.
Demi Tuhan, tapi aku benar-benar
tidak tahu, ke mana lagi aku cari perempuan seinspiratif dirimu? Ingatkah lima
tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram yang engkau pilih
sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal penyatuan kita dulu. Hanya itu.
Karena aku memang tidak punya apa-apa.
Ah, bagaimana bisa aku menemukan
perempuan lain sepertimu? Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu,
menyimpan lembaran ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu
per hari. Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe,
cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan menu
itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling indah sepanjang
pernikahan kita. Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan
kaumenyambutku dengan tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal,
dan lalap sawi.
Kita bahagia. Sangat bahagia?..
Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku dengan
jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang tingkah anak-anak
tetangga? Kala itu kita begitu menginginkan hadirnya buah cinta yang namanya
pun telah kusiapkan sejak bertahun-tahun sebelumnya. Kita tidak pernah berhenti
berharap, kan, Honey?
Dua kali engkau menahan tangismu
di ruang dokter saat kandunganmu mesti digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk
kepalamu, lalu membisikkan kata-kata sebisaku, “tidak apa-apa. Nanti kita coba
lagi. Tidak apa-apa.” Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama
menangis, tanpa isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja
kukatakan kepadamu, “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih muda.”
Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu, lukamu berkali lipat
lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau selalu bisa segera tersenyum
setelah merasakan sakit yang mengaduk perutmu, saat calon bayi kita
dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya di depan rumah kita yang sepetak.
“Yang dalam, Kang. Biar nggak digali anjing.”
Jadi, ke mana aku bisa mencari
perempuan sekuat dirimu? Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu
aku masih di tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu.
“Kang, Mimi ke Ujung Berung, jual cincin.” Cincin yang mana lagi? Engkau sedang
membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku membayangkan bagaimana
kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas pinggir jalan. Bukankah seharusnya
aku masih mampu memberimu uang untuk makan kita beberapa hari ke depan? Tidak
harus engkau yang ke luar rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan
orang-orang asing. Terutama ? untuk menjual cincinmu? Cincin yang
seharusnya menjadi monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan,
ketika kupulang, dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang.
Malam itu, tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang
membawa uang. Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari
perempuan lain seperti dirinya?
Ketika kondisi kita membaik,
bukankah engkau tidak pernah meminta macam-macam, Cinta? Engkau tetap
sesederhana dulu. Kaubelanja dengan penuh perhitungan. Kauminta perhatianku
sedikit saja. Kau kerjakan semua yang seharusnya dikerjakan beberapa orang.
Kaucintai aku sampai ke lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.
Ingatkah, Sayang? Aku pernah
menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak mau lagi membeli pakaian selama
bertahun-tahun kemudian. Baju itu seharga kambing, katamu. Kautak mau
buang-buang uang. Bukankah telah kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap
seperti dulu. Membuat prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau
lebih suka mengisi celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu
sendiri.
Dunia, kupikir aku tak akan
pernah menemui lagi perempuan seperti dia. Sepekan lalu, Sayang, sementara di
rahimmu anak kita telah sempurna, kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana
puasaku, bukaku, sahurku? Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku.
Bukankah sudah kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri
untuk perjuanganmu melahirkan anak kita? “Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir,
gak boleh libur juga gak papa. Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih,
mungkin krn bentar lagi.” Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta.
Panggilan tugas. Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi
komitmen. Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses
menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak boleh
menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin tebal
bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.
Kaumencintaiku dengan memberiku
sayap. Sayap yang mampu membawaku terbang bebas, namun selalu memberiku alamat
pulang kepadamu. Selalu. Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab,
segera menyusul teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu.
Secepat-cepatnya meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu.
“Terus kamu kenapa masih di sini? Pulang saja,” kata atasanku ketika itu.
Engkau tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu
mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya “tentara kecil” kita.
Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan meeting itu dulu, agar tidak
ada beban yang belum terselesaikan. Tapi, tidak. Atasanku bilang, tidak.
“Pulang saja,” katanya. Baru kubetul-betul sadar, memang aku segera harus
pulang. Menemuimu. Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat
itu satu-satu. Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.
Lima jam kemudian aku ada di
sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit dengan infuse di pergelangan tangan
kirimu. Kaumulai merasakan mulas, semakin lama semakin menggila. Semalaman
engkau tidak tidur. Begitu juga aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak
bisa. Aku tatap baik-baik ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga
lepas subuh, ketika engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang
perawat. “Istri saya akan melahirkan,” kataku yakin.
Bergerak cepat waktu kemudian.
Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan aku menolak untuk meninggalkanmu. “Dulu
ada suami yang ngotot menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu
jatuh pingsan,” kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang
pasti laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang persalinan
itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu. Mengalirkan energi
lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku. Terjadilah. Satu jam. Engkau
mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung selama bertahun-tahun. Keringatmu
seperti guyuran air. Membuat mengilap seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit
kadangkala. Tanganmu mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah
kurasakan sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat
kesakitan, sementara “tentara kecil” kita tak pula mau beranjak. “Banyak kasus
bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan. Tapi anak ini kakinya
melintang,” kata dokter. Aku berusaha tenang. Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa
membantu apa-apa. Kusaksikan lagi wajah berpeluhmu,Sayang. Kurekam baik-baik,
seperti fungsi kamera terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling
tersembunyi. Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika
kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu.
Aku akan mengingat wajah itu.
Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena ingin membuatku bahagia. “Sudah
tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga,” bisikmu persis di telingaku. Karena
sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini urusan nyawa. Lalu
kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati, rekaman suaramu itu akan
kuputar setiap lahir niatku untuk meminggirkanmu, mengecilkan cintamu,
menafikkan betapa engkau permata bagi hidupku. Aku mengangguk kepada dokter
ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau dioperasi. Tidak ada jalan lain.
Aku membisikimu lagi, persis di telingamu, “Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini
yang kita tunggu selama 5 tahun. Hayu semangat!”
Engkau mengangguk dengan binar
mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu, ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku
memukuli dinding, menangis sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, “Kenapa
saya, Tuhan! Kenapa kami?” Sebab, Tuhan akan menjawab, “Kenapa bukan kamu?
Kenapa bukan kalian?” Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu.
“Semua akan baik-baik saja.” Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat
di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup.
Seandainya aku boleh mendampingi operasimu?. Tapi tidak boleh. Aku menunggumu
sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha tersenyum, tetapi
sendirian. Tidak ? tidak terlalu sendirian.
Ada seseorang mengirimiku pesan
pendek dan mengatakan kepadaku, “Aku ada di situ, menemanimu.” Kalimat senada
kukatakan kepadanya suatu kali, ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan.
“Apa kepala bebalmu tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!” Lalu, tangis
itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara terindah sedunia.
Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya ketika menunggu namaku
disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika tubuh mungil itu disorongkan
kepadaku. “Ini anak Bapak?” Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar
dari rahimmu, dan aku harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk
tangan-tangan berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara
yang sangat senior. “Selamat, ya. Bayinya laki-laki.” Sendirian, berusaha
tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya, Allah?.bagaimana
membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan oleh semua kata yang ada di
dunia???
Makhluk itu terpejam tenang
semacam malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin
menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir
kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok Gunung
Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat. Mendanau mataku. Begini
rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa surga. Aku tak pedul lagi
seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak perlu apa-apa lagi untuk bahagia.
Momentum itu berumur sekitar lima menit. Tentara kecil kita diminta oleh
perawat untuk dibersihkan. Ingatanku kembali kepadamu.
Bagaimana denganmu, Sayang?
Kukirimkan kabar tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman
menemani kita bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator,
pencari, dan saudara kembarku. “He is so cute,” kata SMS ku kepadanya. Sesuatu
yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan mengutuk dirinya
untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan dirinya sendiri. Sebuah
kutukan penuh cinta. Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar
perawatan kelas dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita.
Engkau, aku, dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat
membantuku di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu
banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya dan
ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita. Engkau butuh 24 jam untuk mulai
berbicara normal, setelah sebelumnya seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam,
kecuali gerakan mata dan sedikit getaran di bibir.
Aku memandangimu, merekam
wajahmu, lalu berjanji pada hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan
oleh siapa pun di dunia ini. Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita
menikmati bulan madu kita sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi
setiap hari. Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang
harus kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha
mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya tangisnya
tak meledak-ledak. “Terima kasih, Kang,” katamu setelah kubantu mengurusi
kebutuhan kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus,
Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup engkau
lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus sedunia? Lalu
ke mana kata “terima kasih” yang seharusnya kukatakan kepadamu sepanjang lima
tahun ini? Tahukah engkau, kata “terima kasih” mu itu membuat wajahmu semelekat
maghnet paling kuat di kepalaku. Mengurusimu dan bayi kita.
Lima hari itu, aku menemukan
banyak gaya menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan
yang ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang kotoran.
Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi klasik (seperti
di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak nyaman, dan paling
istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan. Tidak ada tandingnya di
rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk namun tidak satu pun cermin itu.
Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu tangisannya meski di lantai yang sama
ada bayi-bayi lain menangis pada waktu bersamaan.
Ah, indahnya. Tak pernah bosan
kutatapi wajah itu lalu kucari jejak diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di
sana. Awalnya kupikir 50:50 cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan
dirimu kepadanya. Tapi memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung,
dagu, rahang, jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang
kupikir tidak ada duanya di dunia.
Ada bisik bangga, “Ini anakku?
anak laki-lakiku. ” Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan sebening
kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya kelak semembentang
hatimu. Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama
sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak serta-merta.
Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara dengan diri sendiri;
kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah. Sedangkan Himada memiliki
makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad: YANG TERPUJI? dan itulah doa kita
untuknya bukan, Sayang? Kita ingin dia menjadi pribadi yang terpuji dunia
akhirat. Kaya nomor sekian, pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting
adalah terpuji? mulia?dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey?
Ini menjadi awal yang indah.
Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu. (persembahan buat setiap perempuan, dan ibu
yang hatinya semembentang samudra)
———-
dikirim oleh @archcamt / rachmat lianda di #fb. Terima kasih
udah berbagi cerpen yg indah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar