Rabu, 03 September 2014

Kepada kamu, dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. dan, di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci untuk berada dalam posisi seperti itu. tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekedar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang sekali lagi salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey ! ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in cammon,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, akung, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan….


Aku takut sendirian.



*dari sebuah bab project buku yang tidak lucu

Minggu, 13 April 2014

Jika maafku seperti hujan malam ini

Hujan malam ini seperti kaca yang terpecah dalam mataku.
pecahannya membuat mataku luka dan meneteskan air mata.
Hujan malam ini seperti buku tanpa kata-kata. Kosong.

Maaf jika aku terlalu kuat memecahkan kaca hingga melukaimu.

Maaf jika aku tak bisa memberimu kata-kata hingga membuatmu kosong.

Andai ada kata lain selain maaf yang lebih pantas kukatakan.

Pasti sudah kukatakan.
Andai aku tak kuat memecahkan kaca.
Pasti tak pecah, dan tak melukaimu.
Andai aku memberimu kata-kata.
Pasti kamu tak kosong.


Jika maafku seperti hujan malam ini, kamu pasti akan kebanjiran.

Itulah sebabnya aku sadar diri untuk menampungnya sendiri.

Karna aku tau, kamu tak pantas aku lukai.

Aku tau itu perasaanmu.



-hani.a.k

Minggu, 12 Januari 2014

Lingkaran Masa


Disudut itu aku tersudut dalam lingkaran suatu masa.
Tak ada kata yang terucap.
Tak ada pula logika dalam otak.
Diam, terkuncikan kisah nyata.
Beranjak dari fakta, aku pergi dengan satu alasan.
Alasan yang seringkali menjadi alasan.
Kala malam semakin menggelap, 
aku kembali tersudut disudut yang sama.
Sudut kedamaian.
Terlintas bayangmu dalam sebuah kedipan mata.
Senyummu yang mampu menenggelamkan kata-kata.
Membawaku mengalir tak bermuara.
Andai saja ku dapat memutar waktu.
Tak akan ku biarkan detik-detik semu menghampirimu.
Membiarkanmu dalam kesendirian yang sunyi dan malam yang sepi.
Disudut itu, aku teringat akan genggamanmu
yang menghangatkanku.
Tatapan mata yang menyejukan jiwa.
Dan senyumanmu yang menjadi napas kebahagiaanku.
Rasanya waktu terlalu cepat berlalu kala aku bersamamu.
Disudut ini, aku butuh kamu. Hanya itu.